prospek ternak bebek di tahun 2009

May 7th, 2009

0

Peternak ayam petelur di wilayah Madiun kini banyak yang beralih menjadi peternak bebek petelur lantaran ayam petelur dianggap sudah tidak berprospek dan beresiko tinggi.

“Beternak ayam petelur sudah tidak menguntungkan. Harga pakannya juga semakin melambung, sedangkan harga telur di pasaran labil sehingga keuntungannya tidak bisa diharap seperti dulu lagi,” kata Supriyono, peternak ayam petelur warga Kelurahan Pangongangan, Kecamatan Kota Madiun.

Ia kini mulai beralih ke ternak bebek petelur dan ayam aduan. “Beternak bebek petelur lebih mudah dan berbiaya murah. Selain itu, peluangnya masih terbuka lebar karena belum banyak yang melakukannya layaknya ayam petelur,” katanya, Jumat (14/11).

Di samping itu, katanya, bebek petelur tahan penyakit, angka kematian nyaris nol, harga pakannya murah dan gampang didapat. “Harga telurnya juga lebih tinggi dibandingkan dengan telur ayam,” kata Supriyono.

Hal yang sama juga dikatakan Ir Tony S, pemilik peternakan ayam petelur yang relatif besar di Desa Tanjungsari, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan.

Dia mengatakan, beternak bebek petelur tidak memerlukan modal awal sebesar beternak ayam petelur dan modal awal lebih cepat kembali dibandingkan beternak ayam petelur.

“Dengan modal Rp 5 juta, untuk 100 ekor bibit bebek sudah termasuk biaya pakan, sudah cukup. Dengan modal itu, kita sudah mendapatkan keuntungan bersih setiap hari paling sedikit Rp 30.000,” kata Tony.

Pengalamannya selama ini, dalam tempo dua setengah bulan beternak bebek, modal awal sebesar Rp 5 juta tersebut sudah bisa kembali. Hal ini, katanya, tidak bisa terjadi bila beternak ayam petelur karena modal awal untuk beternak ayam petelur baru bisa balik modal paling cepat enam bulan.

“Kalau harga telurnya stabil, insya Allah dalam jangka waktu enam bulan modal awal beternak ayam petelur sudah balik. Namun, kalau harga pakan dan harga produknya (telur) naik turun, ditambah pula ada isu telur palsu, dalam waktu dekat kemungkinan bisa gulung tikar,” kata Tony.

“Malahan harga bebek afkiran (sudah tidak produktif) saja di pasaran masih lebih tinggi dibandingkan dengan afkiran ayam petelur. Harga bebek afkiran di pasaran masih relatif tinggi. Paling murah per ekor Rp 28.500,” kata Tony.

PEDOMAN BUDIDAYA TERNAK BEBEK

May 7th, 2009

2

PEDOMAN BUDIDAYA TERNAK BEBEK I. SARANA 1. Lokasi 1) Tak bertentangan dengan RUTR dan RDTR

2) Letak dan ketinggian lokasi dengan wilayah sekitarnya harus memperhatikan lingkungan dan topografi 2. Lahan Lahan harus jelas, sesuai degan peruntukannya menurut peraturan perundangan yang berlaku

3. Penyediaan Air dan Alat Penerang Air yang digunakan harus memenuhi baku mutu air yang sehat yang dapat diminum oleh manusia dan ternak serta tersedia sepanjang tahun, dan hendaknya menyediakan alat penerangan (listrik) yang cukup sesuai kebutuhan.

4. Bangunan

1) Jenis Bangunan

a. Kandang anak ayam, kandang ayam dara, ayam induk/babon dan ruang penetasan; kandang isolasi ayam sakit

b. Gudang penyimpanan bahan baku, ransum makanan ayam, gudang peralatan, ruang penyimpanan telur dan tempat penyimpanan obat;

c. Bak dan saluran pembuangan limbah

d. Bangunan kantor untuk urusan administrasi

2) Konstruksi Bangunan Memenuhi daya tampung untuk menjamin masuknya udara dengan leluasa ke dalam kandang dan keluarnya udara kotor (suhu optimal 26,5 oC dengan kelembaban maksimum 90%) memiliki saluran pembuangan limbah , bahan yang ekonomis.

3) Tata Letak Bangunan

a. Ruang kantor dan tempat tinggal karyawan : terpisah dari perkandangan

b. Ruang penetasan, kandang untuk anak ayam dan kandang induk untuk

3) Pembuatan unit pengolahan limbah (padat, cair dan gas)

4) Pembuatan tempat pembuangan kotoran dan penguburan bangkai VI. PENGAWASAN

1. Sistem Pengawasan 1) Pada titik kritis dalam proses produksi untuk memantau kemungkinan adanya penyakit

2) Dinas Peternakan melakukan Pengawasan 2. Sertifkasi

1) Untuk tujuan ekspor harus dilengkapi dengan sertifikat

2) Sertifikat dikeluarkan oleh Dinas Peternakan/Instansi yang membidangi Peternakan setelah melalui penilaian berdasarkan monitoring dan evaluasi

3. Monitoring dan Evaluasi 1) Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh instansi yang berwenang di bidang peternakan di kabupaten/kota 2) Evaluasi dilakukan setiap tahun berdasarkan data dan informasi yang dikumpulkan serta pengecekan/kunjungan ke lokasi usaha

4. Pencatatan Data yang perlu dicatat adalah data populasi, produksi, catatan produksi, konsumsi pakan, jadwal vaksinasi, penyakit, pemasukan dan pengeluaran itik.

5. Pelaporan Setiap usaha itik wajib membuat : 1) Laporan tertulis secara berkala (semester dan tahunan) kepada instansi Dinas Peternakan 2) Laporan Internal (teknis dan administrasi) untuk pengawasan intern, terutama pada titik kritis